Pahala Mengerjakan Umrah
Soalan: Apakah benar pahala umrah sebanyak 7 kali itu bersamaan dengan pahala satu kali haji?
Jawapan: Hukum Mengerjakan Haji dan Umrah
Ibadat haji merupakan salah satu rukun Islam dan ia hanya wajib dikerjakan sekali seumur hidup, kecuali sekiranya dinazarkan atau kerana qadha’.
Kewajipan haji dikerjakan sekali seumur hidup itu ada dijelaskan dalam hadits sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah berkhutbah kepada kami dengan sabdanya:
Maksudnya: Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji ke atas kamu, oleh sebab itu kerjakanlah haji itu. Seorang lelaki bertanya: “Adakah tiap-tiap tahun wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam diam tidak menjawab, sehingga lelaki itu mengulang-ulang pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jikalau aku katakan “ya”, nescaya wajiblah ia (setiap tahun) dan kamu tidak akan berupaya melakukannya.” Seterusnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda lagi: “Biarkanlah aku (jangan kamu tanya) tentang apa yang aku tinggalkan (yang tidak aku sebutkan) kepada kamu. Sesungguhnya telah binasa orang-orang yang sebelum kamu adalah dengan sebab banyaknya pertanyaan-pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka. Maka apabila aku menyuruh kamu dengan satu-satu perintah itu, kamu laksanakanlah sesuai dengan keupayaan kamu dan apabila aku melarang kamu daripada (mengerjakan) sesuatu, maka kamu tinggalkanlah ia.” (Hadits riwayat Muslim)
Adapun hukum mengerjakan umrah adalah fardhu sama seperti haji dan juga wajib dilakukan sekali seumur hidup sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ:
Tafsirnya: Dan sempurnakanlah ibadat haji dan umrah kerana Allah semata-mata. (Surah al-Baqarah: 196)
Berkata Imam al-Khathib asy-Syarbini Rahimahullâh dalam kitabnya Mughni al-Muhtâj:
Ertinya: Haji adalah salah satu yang difardhukan (diwajibkan) dan begitu juga dengan umrah menurut pendapat yang (al-azhhar) dalam mazhab asy-Syafi‘i.
Imam Abu Ishaq asy-Syirazi Rahimahullâh berkata:
Ertinya: Dan tidak wajib dalam seumur hidup itu mengerjakan lebih daripada sekali haji dan umrah menurut tuntutan syara‘.
Perkara ini juga ada dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Suraqah bin Malik, beliau berkata:
Maksudnya: Wahai Rasulullah! Adakah umrah kita ini untuk tahun ini sahaja atau untuk selama-lamanya? Rasulullah menjawab: “Tidak, bahkan (ibadat umrah itu) untuk selama-lamanya, (di mana) umrah termasuk dalam (amalan-amalan) haji sehingga ke Hari Kiamat.” (Hadits riwayat ad-Daraquthni)
Kelebihan Haji dan Umrah
Terdapat banyak hadits yang wârid menyebutkan mengenai kelebihan haji dan umrah, antaranya ialah:
1. Satu umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus segala dosa dan haji yang mabrûr tidak ada balasan baginya melainkan syurga. Ini jelas berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maksudnya: Satu umrah ke umrah berikutnya adalah kaffârah (penghapus dosa-dosa) di antara kedua-duanya dan haji yang mabrûr tidak ada baginya balasan (pahala) melainkan syurga. (Hadits riwayat al-Bukhari)
2. Umrah di bulan Ramadhan menyamai ganjaran pahalanya dengan ibadat haji. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas Radhiallâhu ‘anhumâ, bahawasanya Nabi Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada seorang perempuan dari kaum Anshar yang bernama Ummu Sinan:
Maksudnya: Apa yang menghalangimu sehingga kamu tidak turut menunaikan haji bersama kami? Perempuan itu berkata: “Kami hanya memiliki dua ekor unta yang kedua-duanya adalah untuk bapa Polan - suaminya - dia (suaminya) pergi menunaikan haji bersama anaknya menggunakan salah seekor daripadanya, sedangkan yang satu lagi digunakan oleh pembantu kami untuk menyiram kebun.” Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Maka menunaikan umrah pada bulan Ramadhan (ganjarannya) adalah menyamai satu haji atau menyamai satu haji bersamaku.” (Hadits riwayat Muslim)
3. Mengerjakan haji dan umrah adalah merupakan tetamu Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ. Ini jelas berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maksudnya: Tetamu Allah itu ada tiga golongan (iaitu) orang yang berperang, orang yang berhaji dan orang yang berumrah. (Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah)
4. Haji juga merupakan sebaik-baik amalan selepas beriman kepada Allah Subhânahu wa Ta‘âlâ dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta berjihâd di jalan Allah.
Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu meriwayatkan bahawasanya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai apakah amalan yang lebih afdhal, lalu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maksudnya: Beriman kepada Allah dan RasulNya. Dikatakan lagi: “Kemudian (amalan) apa?” Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Jihâd di jalan Allah”. Dikatakan lagi: “Kemudian apa?” Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Haji yang mabrûr.” (Hadits riwayat al-Bukhari)
5. Haji adalah jihâd bagi kaum wanita. ‘Aisyah Ummul-Mu’minîn Radhiallâhu ‘anhâ pernah bertanya:
Maksudnya: Ya Rasulullah! Kami melihat jihâd adalah sebaik-baik amalan, tidakkah kami berjihâd? Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidak, akan tetapi sebaik-baik jihâd itu adalah haji yang mabrûr.” (Hadits riwayat al-Bukhari)
6. Haji yang mabrûr diampunkan segala dosa seperti ketika baru dilahirkan. Perkara ini jelas berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maksudnya: Barang siapa mengerjakan haji ke Baitullah dan tidak melakukan jimâ‘ mahupun berbuat fâsiq, maka (dia akan) kembali sebagaimana ketika hari dia dilahirkan oleh ibunya. (Hadits riwayat al-Bukhari)
7. Amalan yang pahalanya menyamai dengan pahala haji dan umrah juga ada disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Umamah Radhiallâhu ‘anhu, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Maksudnya: Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk mendirikan sembahyang fardhu, maka pahalanya menyamai pahala orang yang haji dalam keadaan berihram. Dan barang siapa keluar untuk melakukan sembahyang Dhuha dan tidak ada yang menyusahkan dia untuk keluar (dari rumahnya) kecuali untuk sembahyang Dhuha, maka pahalanya menyamai pahala orang yang umrah. Dan mengerjakan sembahyang setelah melaksanakan sembahyang berikutnya (sembahyang fardhu atau sunat) dan di antara kedua-dua sembahyang tersebut tidak ada melakukan percakapan atau perbuatan yang sia-sia (iaitu dengan bercakap mengenai hal-hal dunia) adalah amal perbuatan yang dicatat di dalam ‘illiyyiin (iaitu ilmu bagi buku kebaikan yang terhimpun di dalamnya amal perbuatan orang-orang yang baik). (Hadits riwayat Abu Daud)
Demikian antara hadits-hadits Baginda Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan tentang kelebihan haji dan umrah. Kita belum menjumpai hadits-hadits shahîh dan perkataan-perkataan ulama yang jelas mengatakan bahawa pahala umrah sebanyak tujuh kali itu sama dengan pahala mengerjakan satu kali haji. Hanya umrah yang dilakukan di bulan Ramadhan sahaja yang ganjaran kebajikannya menyamai pahala satu kali haji sebagaimana hadits yang dijelaskan di atas.
المصدر: Jabatan Mufti Kerajaan Negara Brunei Darussalam· رقم efatwa-12588
